PMDK (PENELUSURAN MINAT DAN BAKAT)

Judul di atas mengingatkan kita pada program penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus negeri melalui tes akademik (bukan UMPTN or SPMB). Tapi bukan hal itu yang ingin saya bahas disini. Hal ini lebih kepada sejauh mana minat dan bakat (kemampuan) seseorang mempengaruhi bidang yang dikuasainya dalam dunia kerja. Pendek kata dalam pikotes kita akan mengetahui bahwasi ‘A’ cocok di jenis pekerjaan ini dan tidak cocok di jenis pekerjaan itu. Kurang lebih itu yang di utarakan oleh employer saya beberapa waktu yang lalu. Beliau menganggap bahwa saya tidak cocok menjadi seorang ‘peneliti’ (walau sekarang saya masih jadi asisten peneliti, masih ‘ijo’) . Itu vonis yang beliau berikan karena saya membuat banyak kesalahan, and made me and my partner suspended . Saya berpikir bahwa saya masih dalam tahap training (hal itu juga dikatakan oleh beliau), masih perlu banyak belajar dan belajar. Bukankah learning by doing, learning by mistake, dan experience is the best teacher adalah slogan untuk kita semua yang ingin maju???
Bukankah Thomas Alfa Edison juga melakukan 9999 kesalahan sebelum berhasil membuat lampu pijar di percobaan ke 10000???? Apa jadinya bila Imam Maliki (kalo ga salah) waktu belajar di usia separuh baya menyerah??? Apa jadinya pula jika HONDA (si pelopor sepeda motor) menyerah untuk meyakinkan investor bahwa idenya membuat sepeda motor akan laku di pasaran????
Beliau tidak mentolelir kesalahan, karena deadline proyek (katanya). Pemecatan yang beliau lakukan tidak membuat saya sedih. Yang membuat saya sedih adalah hilangnya kesempatan saya belajar banyak dari beliau yang memiliki segudang pengalaman (percuma kalo pengalaman n ilmu segudang tapi ga ditularin, ga diduplikasikan kepada yang lain, bener ga???). Bukankan manusia terbaik itu adalah yang mampu memberi manfaat buat yang lain???
Hal lain yang membuat hati saya makin miris adalah, dilimpahkannya semua pekerjaan tersebut kepada rekan sejawat saya yang lain yang notabene dia juga punya pekerjaan lain dari beliau. Terpaka yang lain ditunda untuk menyelesaikan proyek ini. Saya melihat mereka mengerjakan pekerjaan yang dilimpahkan tersebut tidak dengan perasaan senang tapi dengan perasaan cemas, takut, was-was bilamana mereka melakukan kesalahan. Semua nya dilakukan dengan under pressure. Apa kah dengan seperti itu akan membuat pekerjaan lebih baik??? Teman saya yang dilimpahkan pekerjaan tersebut sempat menangis karena perlakuan employer saya yang tidak adil (paling tidak bukan saya saja yang mengatakannya). Pada hari dimana saya mendapatkan sms yang berisi pemecatan dan pelimpahan pekerjaan, saya justru merasa plong dan menghabiskan waktu pergi ke islamic book fair.
Aaaaach semuanya mungkin memang sudah takdir……
Allah mungkin memiliki rencana yang lebih baik for me and my partner , InsyaAllah…. (berprasangka baik saja…)
Teman saya sempat bingung kenapa saya tampak tegar, lalu saya katakan ” LOh, kalo saya sedih trus sampe stress and murung apa semua masalah akan selesai??? Nggak kan???” Jadi ambil hikmahnya saja…..
(ditulis empat hari setelah suspended)

3 Responses

  1. yang lebih penting dari hidup ini adalah proses ketimbang hasil so semangat Bro!!

  2. thanx bro

  3. dulu aku masuk lewat SPMB…

Leave a Reply