Selasa itu kami berempat (wa-one, deni, fachri, dan diriku) mengadakan kajian rutin tiap pekan di bilangan kalibata. Kajian dimulai sehabis isya sampai pukul 22.00++, kami memutuskan pulang dan tidak mabit (walau sebenarnya aku ingin mabit, karena sudah terlalu malam namun karena tidak ada teman ya…kuputuskan pulang saja). Fachri pulang dengan membonceng deni, sedangkan aku dan wa-one berjalan sampai pertigaan untuk menaikki angkutan umum. Saat itu memang aku tak lagi menggunakan sepeda motor untuk hadiri kajian rutin tersebut, maklum beberapa bulan sebelumnya motorku raib di asrama banten (kawasan ipb dramaga). Seperempat jam menunggu kendaraan umum (wa-one menunggu kopaja ke arah blok m, sedangkan aku bis ke arah kalideres) akhirnya wa-one mendapatkan kendaraan pulang, sedangkan aku sampai pukul 12.00++ belum juga mendapati bis ke kalideres. Memang sebenarnya kecil kemungkinan mendapatkan kendaraan yang langsung ke sana, adapun hanya sampai grogol saja. Namun aku saja yang agak kekeh ingin kendaraan langsung. Di dalam penantian, aku sempat tertidur . Suasana di sana mulai lengang, hanya 1-2 kedai yang masih buka. Akhirnya kuputuskan berjalan kaki sampai tempat dimana aku bisa merebahkan diri dan tidur. Setelah berjalan kurang lebih 500m, kudapati masjid. Hatiku yang sumringah mendadak lesu karena masjid tersebut terkunci. Dengan langkah agak gontai dan kepala agak berat, kukumpulkan tenaga untuk mencari tempat yang lain. Akhirnya sampailah diriku di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU=pom bensin), kulihat disana ada mushola. Kuputuskan bermalam disana. Ternyata yang bermalam disana tidak hanya aku, tetapi para supir (terutama supir taksi) yang lelah setelah menempuh perjalanan dan ingin beristirahat (kusadari keesokan harinya bahwa mushola itu bernama mushola musafir). Setelah selesai dari kamar mandi (biasa, ritual sebelum tidur), kunaikki mushola yang berada di lantai 2 untuk menunaikan sholat sunat sebelum diriku tidur. Pada pukul 3 pagi aku dibangunkan oleh bapak supir, yang terjaga karena mendengar bunyi alarm dari hapeku (aku memang sengaja menyetel alarm tersebut), “Mas, hapenya bunyi”, katanya sambil menepuk lenganku. Kontan aku terjaga, sambil mengumpulkan ‘nyawa’ aku turun menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ternyata para supir taksi yang kutemui disana rajin bangun malam. “Kesibukkan” itu terus berlangsung hingga subuh berlalu. Saat kudapati waktu menunjukkan pukul 5.30, maka kuputuskan untuk pulang ke rumah. Pengalamanku tidur di sana mengajarkan bahwa kita ’singgah’ hanya sebentar saja dan kita adalah ibarat seorang ‘musafir’.
Filed under: nama dan peristiwa
banyak blogwalking!!!
Aneh ya. Hal2 yg berarti justru sering kita dapati secara gak sengaja.
seharusnya ijab qobulnya diperjelas,,,
“kl saya kirimin…. nanti kamu komen blog saya ya… ” jadi saya bisa milih,,, mau dikirimin apa ngga…
ini mah udah dikirimin baru nyuruh,,,
itu namanya maksa…
well,,, karna udh ke-save di hard disk lappy saya,,, mau ga mau saya kudu komen…
komen saya kpd sang penulis,,, coba mampir ke “ggdagdadauidaidgadbg” deh,,, dia jg nulis pengalaman2 pribadi,,, tapi how to write it in an interesting way,,,
oke,,,
overall,,, just keep writing…
pen…kata-kata “jangan pulang sekalian”…itu mah biasa….,betul tidak???:)